SeeHeart4Life OnLine Shoppe (Sila klik icon untuk mula shopping di sini)

4Life Research LLC - Digital NewsStand

Showing posts with label Isu. Show all posts
Showing posts with label Isu. Show all posts

Monday, April 29, 2013

NEP - is it a hindrance to Malaysia unity and justice?




I actually like KJ's response to the first question and he is quite right in his response

The question was asked by I believe a non-bumiputera about how can we have an equal Malaysian (1Malaysia) when we have NEP at the same time.

NEP is not the reason why we can not have so-called 1Malaysia (if the meaning is to have justice to all races) as the very reason NEP was established was to make correction to the social-structure and wealth distribution left by colonial British. It is these very reasons why NEP was established due to the injustice of wealth distribution especially to the Malay majority and the injustice of social-structure especially against the Malays.

The objective is to enrich the uneducated Malays and the poor with capability and competencies to be in level playing fields with their fellow citizen the non-bumiputera i.e. the Chinese which mostly were businessmen and the Indian which mostly the professionals. Second objective is to re-shape the wealth distribution to the poor which happen to be mostly the Malays at that time and still is till today, but without taking away or sacrificing what is already residing with the non-Malays/non-bumiputeras but rather by enlarging the pie of wealth, with both bumiputera and non-bumiputera helping each other in enlarging the opportunity by bumiputera sharing their political will to the non-bumiputera whilst the non-bumiputera share business opportunity and knowledge to bumiputera community.

Without these, our forefather foresee (again regardless whether we agree or not), there will not be stability in the country just like what happen to South Africa, Israel, Zimbabwe, Fiji etc, when the the pre-colonial citizen were denied justice with level of playing fields.

As most of the poor especially the hard-core poor are the Malays/Bumiputera, NEP emphasises on "Malay Privilege" in meeting the objective of restructuring the social structure and these were agreed by our forefather among the major three races - Malay, Chinese and Indian in the social-contract regardless whether our generation agree with it or not. The word Privilege (Istimewa in Bahasa Melayu) used need to be analysed by the Malays as well as the non-Malays in more details. The word is 'temporary' in nature instead of the word Rights (hak). These need to be understood by the Malays that Privilege does not mean Rights especially when the new generation of citizen like us comes into existence.

The new generations will definitely question the - what perceive to be in-equal rights in NEP, whereas it was actually agreed by our forefather due to understanding of the spirit behind it. Lack of understanding about the spirit of it by the new generations was actually foreseen by our forefather. Hence, our forefather when they drafted NEP, realized this reality, this phenomena will going to happen anyway therefore, formulated something like a KPI for them to meet within the framework of NEP. KPI consists of expected deliverable/outcome and timeline. One of it for example is 30% equity among the bumiputera which consist more than 60% of the national population. Our forefather believed that, when all the deliverables in giving justice of wealth distribution and social structure are met within the stipulated timelines, the so-called privilege should slowly be removed to give equal rights and access to all races as 1Malaysia.

Overtime, these deliverable and timeline are like a time-bomb especially if one-by-one of the its deliverable not met within timeline.

The question really is not that NEP as barrier to national unity as it is actually the very reason for national unity but rather the question should be a) the failure to manifest the objective of NEP via failure to deliver the outcome within timeline; and b) the abuse of NEP in enriching small quarter of rich people and ignoring the majority who really need it. The central question is really a) who abuse the NEP? b) who should be responsible if the KPI set for NEP is not met? Answer to both questions are the same... BN led by UMNO.

Saksikan bagaimana PR cuba membetulkan keadaan ini
Rahsia BN Terbongkar. Video yang cuba diharamkan. from valmiki5 on Vimeo.

The ruling coalition led by UMNO is seen not only failed in delivering the NEP outcomes but also making excuse in extending it and also giving wealth to the few cronies. At the same time, the non-bumiputera business community has not been as sincere in delivering their promise in enriching opportunity and extending helping hand in sharing experience and knowledge to bumiputera community. Instead they have been seen as taking advantage of blood sucking attitude of authority (government) whom always hunger for extra money by giving them bribery. These corrupt practices have delayed the deliverables of the NEP and de-railed its objective hence risk of bringing the country to in-stability as foreseen by our forefather.

The question to us now, what should we as voters do about it. Should we give extended time to the 'old' coalition to meet the deliverable or should we give the mandate to 'new' force but  still need to deliver the noble objective of NEP. Ignoring the correction of social-structure and wealth distribution is not the option if PR is thinking doing so.

Thursday, May 10, 2012

Tak usah ambil pembantu rumah kalau tak mampu - Indonesia


Apabila kerajaan Indonesia mengumumkan bahawa pembantu rumah dari republik itu hanya akan menjalankan satu tugas dengan gaji minimum RM700 sebulan, ia mencetuskan kontroversi. Kerajaan Malaysia pula menegaskan, apa yang diumumkan oleh Indonesia minggu lalu itu bercanggah dengan memorandum persefahaman yang dimeterai tahun lalu. Dalam temu bual dengan Sinar Harian Online di pejabarnya kelmarin, Menteri Penasihat Kedutaan Indonesia, Suryana Sastradiredja mengupas isu ini kepada wartawan RUZY ADILA IDRIS.

Meskipun MoU sudah dimeterai dan pertemuan susulan Pasukan Petugas Bersama, nampaknya masih wujud kekeliruan kadar tuntutan gaji pembantu rumah dari Indonesia?

Saya turut ditanya soalan sama oleh media lain mengenai perkara itu. Nampaknya berlaku kekurangan kolaborasi dan penyampaian maklumat daripada pegawai Malaysia kepada kerajaan dan juga kepada Perdana Menteri kerana ahli Pasukan Petugas Bersama bercakap kepada media selepas saya membuat kenyataan.

Dalam kandungan perjanjian nampaknya menekankan satu pembantu rumah satu tugas. Boleh jelaskan?

SURYANA: Sebetulnya begitu. Pada awalnya, kadar gaji ditetapkan antara RM600 hingga RM800 (sebulan) untuk satu pengkhususan kerja, tetapi daripada angka itu kita dapat RM700 dan pembantu rumah Indonesia perlu melalui latihan 200 jam. Latihan merangkumi empat jenis iaitu pembantu rumah, pengasuh, penjaga orang tua dan memasak di mana majikan Malaysia hanya boleh pilih satu bidang tugas. Masalahnya, saya tidak pasti di mana kekurangan maklumat dan mungkin Pasukan Petugas Bersama (di pihak) Malaysia tidak memaklumkan kepada menteri atau perdana menteri.

Oleh sebab itu, saya redakan berita itu. Okeylah, anda boleh minta pembantu rumah kerja lebih, boleh minta pembantu rumah buat dua atau tiga kerja lain, tetapi harus sepakat dulu. Jika majikan perlukan pembantu rumah membuat tugas tambahan, mereka perlu membuat perjanjian dan bersetuju bayaran tambahan yang dipersetujui bersama (oleh majikan dan pembantu rumah). Misalnya, jika pembantu rumah diambil untuk membuat kerja rumah dan majikan perlu bantuannya untuk menjaga anak, ini kerja tambahan, jadi bagilah dia bayaran tambahan. Jika majikan cakap pembantu rumah buat anak cedera, perjanjian menyatakan pembantu rumah hanya membuat kerja rumah dan majikan perlu bertanggungjawab sendiri, kalau terjadi apa-apa, majikan tidak boleh saman.

Jika begitu, berapa bayaran tambahan?

SURYANA: Bergantung perjanjian antara majikan dan pembantu rumah. Patut satu bidang satu gaji, jadi buatlah perjanjian dengan pembantu rumah berapa tambahannya.

Apakah perbezaan perjanjian dahulu dan sekarang?

SURYANA: Mungkin orang Malaysia tidak faham makna hak asasi manusia. Sebetulnya saya jamin itu. Definisi pembantu rumah ialah pekerja rumah. Perjanjiannya pun itu domestic helper, yang tugasnya memang di rumah untuk membersihkan rumah, menyapu, bersihkan kaca dan sebagainya. Sementara urusan anak atau orang tua itu ialah nyawa. Boleh anda bayangkan seorang pembantu rumah perlu menjaga anak, perlu menjadi jururawat. Itu melibatkan nyawa. Kalau sudah kerja melibatkan nyawa itu bukan kerja pembantu rumah. Bagaimana kalau salah? Salah beri suntikan atau ubat untuk orang tua, nanti majikan akan salahkan pembantu. Padahal dalam Konvensyen ILO jelas menyatakan tugas pembantu rumah hanya kerja membantu. Itu harus difahami. Masalahnya selama ini, orang Malaysia selalu berfikir ke belakang, selalu melihat ke belakang di mana pembantu itu sebagai superwoman, supermaid yang perlu kerja sampai cuci kereta, mandikan dan beri anjing makan. Itu bukan kerjanya.

Orang Malaysia selalu berpendapat mereka bayar murah, tapi beri kerja banyak kepada pembantu rumah. Kadang-kadang pembantu rumah dibawa ke rumah saudara-mara untuk buat kerja atau di sebelah siang disuruh masak di restoran manakala di sebelah malamnya disuruh tunggu kedai. Ini berlaku kerana tiada justifikasi mengenai tugas patut dijalankan sedangkan mereka sepatutnya bekerja di rumah.

Gaji RM700 sebulan dilihat terlalu tinggi? (Tetapi hakikatnya) bukan semua orang ada orang tua ada di rumah mereka.

SURYANA: Kita faham pembantu rumah itu apa. Dalam kontrak ada disenaraikan tugas dan tanggungjawab majikan, tenaga kerja. Ini kontrak perlu ditandatangani majikan, pembantu rumah dan agensi. Hanya boleh bekerja untuk majikan dan dilarang mencari pekerjaan lain atau disuruh kerja di tempat lain. Harus patuhi arahan daripada majikan dalam mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari meliputi – memasak, mengemas rumah, membasuh pakaian dan menggosok pakaian. Ini perjanjian kerja untuk ditandatangani. Ini sangat jelas. Sekarang, saya juga punya dua pembantu rumah dan seorang pemandu. Di sini saya ada dua pembantu rumah dan dua pemandu. Tetapi saya tak pernah minta pembantu rumah cuci kereta, saya tak pernah minta mereka berkebun sebab itu bukan tugas dia. Satu pembantu rumah untuk menguruskan rumah tangga manakala seorang lagi untuk menguruskan anak-anak. Kenapa? Sebab saya mampu bayar. Sementara itu, saudara saya, tiada pembantu rumah, tiada kereta, dia kata saya bukan awak, saya tidak kaya, saya tidak ada wang, saya tidak ada kereta, jadi saya tidak boleh bayar. Jadi kenapa saya harus paksa. Kalau saya tak mampu bayar, sudahlah.

Sama juga di Malaysia, kalau tidak mampu sudahlah, kenapa harus ribut? Saya sedih… kan saya sudah cakap, menteri pun kata nak cari alternatif cari sumber dari negara lain, carilah, jangan bising-bising. Contohnya, kalau kita mahu membeli barang di Pavilion tapi harganya (kadar) Chow Kit, mustahil. Kalau sebagai perbandingan maaf cakap, kalau mereka ada kemahiran 200 jam, saya berani sumpah mereka tidak datang ke sini. Mereka pilih Hong Kong, Korea, gaji lebih tinggi.

Apa jaminan kerajaan Indonesia majikan Malaysia berbaloi membayar RM700?

SURYANA: Inikan ada dalam perjanjian, pekerja diberi latihan 200 jam mampu bekerja dan boleh dikategorikan pekerja gred A atau B. Kita juga harus dapat jaminan daripada kerajaan Malaysia supaya mereka dibayar sesuai. Kita kirim orang ada kemahiran dan ada sijil. Kita minta jaminan mereka diberi tugas sesuai bidang kemahiran mereka. Di Indonesia, ada lapan agensi pekerjaan menguruskan kemasukan pekerja manakala di Malaysia ada lima agensi. Agensi ini bekerjasama, mereka beri latihan dan agensi Malaysia uruskan penempatan.

Kita juga minta agensi dan kerajaan Malaysia beri biodata majikan seperti yang kerajaan Indonesia kirimkan biodata calon pembantu rumah kepada calon majikan di Malaysia. Biodata itu merangkumi latar belakang majikan, gaji majikan sekurang-kurangnya RM5,000 untuk satu isi rumah (dulu hanya RM3,000) dan termasuk status kesihatan majikan. Kita tidak mahu majikan yang mempunyai sakit mental menggaji pekerja kita. Sebenarnya begini, matlamat kita bekerja dengan Malaysia untuk membina hubungan baik. Kita saling membantu. Kerajaan Malaysia harus memastikan mereka tidak layak, jangan ambil pembantu rumah dan kerajaan Indonesia pula tidak bekalkan pekerja yang tidak mempunyai kemahiran yang akan menimbulkan masalah.

Apakah perbezaan kandungan perjanjian dahulu dan sekarang?


SURYANA: Dahulu, kadar gaji tidak ditetapkan, tetapi sekarang gaji ditetapkan RM700 . Tetapi RM600 boleh ditetapkan bagi negeri seperti Terengganu, Kelantan, Sabah di mana kos hidup lebih rendah. Selain itu, pasport boleh dipegang pembantu rumah, hak satu hari kelepasan am yang tidak ditetapkan harinya dan majikan perlu buka akaun bank untuk bayar gaji. Jika berlaku kes tidak bayar gaji, ada bukti. 


IKLAN

ealier posting

FB Box

Blog of people that I know

  • Konflik Korea Selatan dengan Korea Utara menjadi sebuah momok yang tidak berkesudahan hingga saat ini. Memiliki mata-mata di negara lawan merupakan hal y...
    4 years ago
  • Anak aku Atikah sebelum ini berniaga kain cotton Gred A secara online melalui syarikatnya yang diberi nama Sweet Little Cotton Enterprise atau singkatannya...
    11 years ago
  • Sedikit perkongsian saya yang Allah takdirkan pada 28 Mac 2012 ketika diberi kesempatan bersembang dgn seorang hamba Allah warga asing berbangsa Jerman ber...
    14 years ago

Blog of People I wish to know

Other blogs

Harun Yahya TV

Jadual Ceramah